Selasa, 24 Juni 2008

Masuk Islam

Monica Oemardi : memulai ?hidup baru? sebagai muslimahtanggal : 03/10/2005al-islahonline.com : Bulan suci Ramadhan lalu merupakan bulan penuh hikmah buat saya. Saat itu, saya memulai hidup baru sebagai seorang muslimah. Ini adalah hidayah Allah pada saya dan saya sangat mensyukurinya. Sekarang saya semakin mantap dengan pilihan hati nurani saya itu. Saya siap lahir batin, termasuk menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Saya ingin segera bisa menunaikan ibadah umrah. Insya? Allah.Nama saya Monica Oemardi, lahir di Jakarta, 24 tahun lalu. Papa saya berasal dari Blitar dan beragama Islam, sedangkan mama berasal dari Cekoslowakia dan beragama Kristen Protes-tan. Mungkin, sebagian pembaca tak asing lagi dengan debut saya selama ini di dunia sinetron. Di antara sinetron yang telah saya bintangi adalah Delima, Takhta, Intrik, Warteg, Misteri Gunung Merapi, Angling Darma, dll.Saya berasal dari keluarga Kristen Protestan yang cukup taat. Meskipun demikian, keluarga kami sangat demokratis dalam masalah agama. Setelah menikah, saya pindah agama ke Kristen Katolik, mengikuti suami saya yang pertama.Sebenarnya, agama Islam tidak asing lagi bagi saya. Sebab, kebanyakan keluarga papa beragama Islam. Pada waktu kecil, pernah saya ikut-ikutan shalat Ied pada Hari Raya Idul Fitri di Bandung. Walaupun hanya sekedar gerakan shalat saja, tapi kegiatan ritual itu sangat berkesan di dalam hati saya. Mulai tertarikKetika itu sahabat saya sesama artis, Vinny Alvionita dan Dian Nitami, mengunjungi saya di rumah kos. Ketika kami sedang asyik ngobrol, tiba-tiba terdengar suara azan maghrib dari masjid sekitar rumah kos.Sahabat saya, Dian Nitami yang muslimah itu, langsung ingin sholat, tapi terlebih dulu ia meminta izin kepada saya. Saya dan Vinny beringsut dari tempat duduk untuk menggelar sajadah, karena tempat kos memang sempit.Di dalam kamar kos yang kecil itu, saya perhatikan Dian ketika usai mengambil air wudhu, ia mengeluarkan mukenah putih, kemudian memakainya. Hal itu membuat saya terkesima dan berpikir, Islam itu amat suci, mau menghadap Allah harus menyucikan diri terlebih dulu. Saya amati terus saat Dian me-lakukan shalat, hingga tiba-tiba dari mulut saya terlontar permintaan kepada Vinny untuk mengajarkan saya tata cara shalat.Tentu saja Vinny terkejut mendengar permintaan saya itu, sayapun tak mengerti apa yang mendorong saya hingga melontarkan ucapan demikian, dengan wajah tak percaya Vinny me-mandangi saya. Saya disuruhnya mengulangi lagi permintaan saya tadi itu. Mungkin Vinny tak percaya, karena selma ini saya tak pernah minta diajari shalat kepada teman-teman yang sering datang ketempat kos saya. Tetapi, tiba giliran Dian yang shalat, saya malah minta diajari. Ini mungkin hidayah bagi saya melalui kedua sahabat saya itu.Sejak itu, Vinny memberi saya beberapa buku bacaan. Salah satunya berjudul, lentera hati yang ditulis oleh Prof. Dr.H.Quraish Shihab, M.A. Setelah membaca buku tersebut, saya semakin terpukau dan mengagumi islam. Saya pun se-makin mendalami Islam lewat buku-buku yang diberikan Vinny, di samping bertanya kepada mamanya Dian dan keluargaVinny.Walaupun saya telah terus mempelajari Islam melalui buku-buku yang diberi oleh Vinny, saya masih sering ke gereja. Bahkan Vinny sering mengantarkan. Memang dalam bersahabat kami saling menghargai, terutama soal agama. Ia berpesan kepada saya bahwa tak ada paksaaan dalam Islam. Kalau ingin masuk Islam, harus dengan pikiran dan hati yang bersih dan sesuai dengan hati nurani.Hari demi hari, saya terus mempelajari Islam secara mendalam, hingga akhirnya tak ada keraguan sedikitpun, pada bulan puasa, Januari 1998, hati saya semakin bergetar. Saya menunggu waktu yang tepat untuk memeluk Islam.Gelora hati untuk memeluk Islam mengalahkan segala kesibukan dan persiapan untuk menyambut Hari Natal. Dulu, saya paling suka mempersiapkannya. Bahkan, sebulan sebelumnya saya sudah sibuk merapikan rumah, mencari kado buat mama dan keluarga dan selalu siap membantu mama mempersiapkan kue-kue Natal. Tetapi pada saat itu saya tak melakukan semua itu. Walaupun saya belum mememluk Islam, tapi saya sudah menjalani ibadah puasa.Masuk IslamPada malam tahun baru 1998, saya mengucapkan dua kalimat syahadat dibimbing oleh Prof. Dr. H.Quraish Shihab di kediaman seorang pengusaha elektronik, Rachmat Gobel, di Jalan Saharjo, Jaksel, dalam acara buka puasa bersama. Setelah membaca dua kalimat sahadat, saya tak dapat menahan rasa haru, sehingga saya tak mampu lagi membendung air mata. Rasanya dada in plong sekali, seperti bayi yang baru lahir. Jadi tahun 1999 itu, merupakan tahun untuk memulai ?hidup baru? sebagai muslimah.Walaupun sudah resmi masuk Islam, tapi Pak Quraish Shihab dalam kesempatan itu, juga berpesan agar saya segera meresmikan status keislaman saya itu. Katanya, mengucapkan dua kalimat syahadat berkali-kali tak apa-apa. Maka, pada hari Jum?at tanggal 8 Desember 1999 , dengan dilengkapi prosedur administratif, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat di hadapan para saksi di Masjid Sunda Kelapa.Mengetahui saya masuk Islam, mama sempat marah, bukan apa-apa tapi karena beliau ingin supaya saya dalam hidup ini mempunyai prinsip . Setelah saya jelaskan, beliaupun akhirnya menerima keputusan saya itu. Beliau berpesan supaya saya benar-benar menjaga keislaman saya. Tidak simpang siur dan tidak boleh main-main.Setelah masuk Islam, kehidupan saya terasa lebih tenang, apalagi setelah perceraian dengan suami pertama yang membawa kabur anak saya, Antonius Joshua (6 tahun). Selama bulan suci Ramadhan ini, saya terus menjalankan ibadah puasa dan ternyata, puasa dengan dilandasi niat, berbeda sekali dengan puasa tanpa niat. Saya rasakan puasa tanpa niat itu terasa sangat berat. Tapi, setelah masuk Islam, saya selalu membaca niat puasa setiap sahur, puasapun menjadi ringan.Selama ini saya sahur sendiri, anehnya, saya bisa dengan mudah terbangun, tanpa ada perasaan yang berat dan setelah sahur, saya tidak langsung tidur. Saya hidupkan teve dan mengikuti kuliah subuh. Dari siaran tersebut, saya banyak mem-perolah masukan-masukan yang bermanfaat. Saya bertekad untuk menjadi muslimah yang baik, tentunya dengan diiringi doa dari para pembaca. Insya? Allah.

Tidak ada komentar: